Menghadapi – Anak yang Keras Kepala – Suka Melawan

Menghadapi Anak yang Keras Kepala dan Suka Melawan

Anak usia sekolah seringkali membuat orang dewasa dan orang tua mengeluhkan hal yang sama yaitu anak-anak yang membuat mereka pusing kepala. Banyak sekali orang tua yang merasa kesal atau frustasi menghadapi anak yang suka melawan, memberontak dan berkemauan keras.

Ada satu buku yang menuliskan bagaimana cara menghadapi anak-anak yang keras kepala dan suka melawan.

*) Empat Jenis Anak Pemberontak

1. Menyukai kontrol. Dibandingkan anak-anak lain, anak dari golongan ini sangat menyukai kontrol. Mereka mau melakukan apa saja, bahkan sesuatu yang hasilnya berlawanan asal mereka bisa mendapat,mempertahankan, dan merebut kembali kontrol di tangannya.

2. Memanfaatkan keadaan sekitar. Biasanya mereka sangat cepat menangkap respons orang lain dan memanfaatkan respons tersebut untuk kepentingan sendiri, baik di lingkungan sosial maupun di lingkungan keluarga. Kelak kemampuan membaca reaksi orang lain ini bisa berguna. Tapi bagi anak-anak, kemampuan eksploitif ini digunakan untuk memanfaatkan orang lain dan membuat Anda pusing.

3. Tidak melihat keterlibatan dirinya dalam suatu persoalan. Bukan hanya tidak melihat dirinya berperan dalam suatu persoalan, tetapi juga meyakinkan diri bahwa orang lain di sekitarnyalah yang dengan sengaja menimbulkan persoalan.

4. Toleransi tinggi terhadap hal-hal negatif. Mereka suka membangkitkan kemarahan, dan hal negatif orang lain. Dan sering berhasil melakukan hal tersebut.

*) Bagaimana pengaruh pola asuh yang memicu sikap memberontak.

Kalau kita berfikir kesalahan hanya ada pada anak, jawabannya adalah tidak. Ternyata orang tua bisa memicu sikap memberontak.

1. mengontrol anak sedemikian rupa. Orang tua jenis ini banyak mengatur dan menuntut terlalu keras kepada anak. Membuat setiap masalah menjadi sesuatu yang terkontrol yang akan menciptakan lebih banyak lagi pertentangan dan pemberontakan.

2. memaksakan agar segalanya tenang dan harmonis. Orang tua jenis tenang ini dengan berbagai alasan akan mengeluarkan uang atau melapangkan hati mereka terhadap batasan-batasan luar yang semuanya untuk menghindari konflik.

3. Orang tua tipe pencemas. Orang tua yang yang tidak menegakkan disiplin sebagaimana mestinya kepada anak-anak mereka dan mengasuh anak-anak mereka dengan penuh kekhawatiran.

*) Lalu apa yang musti kita lakukan supaya bisa mengubah anak bermasalah menjadi pemecah masalah yang baik.

1. Jangan mencoba menanamkan kebijakan Anda kepada anak atau menghalangi mereka untuk mengalami konsekuensi perbuatan mereka sendiri. Anak harus mengalami sendiri bagaimana kehidupan itu sehingga dengan bijak bisa memecahkan persoalannya sendiri.

2. Secara emosional, lepaskan diri Anda dari persoalan, bukan dari si anak. Dengan demikian anak dipaksa memecahkan sendiri persoalannya.

3. Biarkan anak tahu perasaannya sendiri dan bahwa Anda turut bersedih saat mengalami kejadian yang kurang menyenangkan atau menyakitkan.

4. Jangan mencoba merintangi anak dari pengalaman yang tidak menyenangkan atau menyakitkan. Ia perlu merasakan kehidupan untuk dapat belajar sesuatu.

*) Namun seringkali keributan tidak dapat dihindari. Baik orang tua dan anak masing-masing merasa benar dalam menghadapi suatu persoalan. Untuk menghentikan keributan tersebut ada lima cara yang perlu kita lakukan.

1. Tutup Mulut. Walaupun sangat sulit untuk melakukannya. Biarkan anak menanggung konsekuensi dari perbuatannya. Tahan diri anda untuk tidak berkomentar bahwa perbuatannya salah. Kalaupun harus bicara, batasi sesedikit mungkin.

2. Gunakan kata-kata pemutus debat. Dengan kalimat-kalimat pendek yang tegas, Anda menunjukkan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Seperti ” Ya Bapak/Ibu tahu”. tidak kurang tidak lebih. Atau “Terimakasih kalau kamu mau mengerti.”

3. Tenang. Jika anak melakukan sesuatu yang tidak semestinya, jangan marah. Tunjukkan rasa sedih sembari memberinya konsekuensi atas perbuatan itu. Kesedihan bisa meredam kemarahan, sedangkan kemarahan akan membangkitkan kemarahan lagi.

4. Semakin banyak pilihan akan semakin mengurangi keributan. Berikan kekuasaan untuk mengontrol karena tipe anak pemberontak memerlukan itu - sebatas kewajaran. Biarkan mereka melakukan pilihan yang cocok bagi dirinya.

5. Jangan katakan “Aku kan sudah bilang“. Jika anak terluka karena tidak mendengarkan nasehat Anda, jangan menunjukkan pada mereka bahwa Andalah yang benar. Ia akan bisa mengerti dengan sendirinya.

shareseriale

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s