Katak dan Anak Lembu

Cerita Dongeng Binatang | Katak Dan Anak Lembu |

Cerita dongeng anak indonesia yang berjudul anak “katak yang sombong dan anak lembu”.
Nah buat sobat yang suka mendongeng berikut dibawah ini dongeng binatang tentang katak yang sombong dan anak lembu, selamat membaca.
 
dongeng katak
========================================== 

Ditengah padang rumput yang sangat luas terdapat sebuah kolam yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. di antara katak2 tersebut ada 1 anak katak yang bernama kentus, dia adalah anak katak yang paling besar & kuat. karena kelebihannya itu, kentus menjadi sangat sombong. dia merasa kalau tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya.
 
Sebenarnya kakak kentus sering menasehati agar kentus tidak sombong pada teman-temannya. tetapi nasehat kakaknya tidak pernah dihiraukan. hal ini menyebabkan teman-temannya mulai menghindarinya hingga kentus tidak punya teman bermain lagi
 
Pada suatu pagi, kentus berlatih melompat di padang rumput. ketika itu juga ada seekor anak lembu yang sedang bermain disitu. sesekali anak lembu itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. anak lembu itu gembira sekali, dia berlari-lari sambil sesekali memakan rumput yang segar. secara tidak sengaja lidah sapi anak lembu itu terkena tubuh kentus.
 
“huh, beraninya makhluk ini mengusikku”, kata kentus dengan marah sambil menjauhi anak lembu. sebenarnya anak lembu tidak berniat mengganggunya. kebetulan pergerakannnya sama dengan kentus sehingga menyebabkan kentus menjadi cemas dan melompat segera untuk menyelamatkan diri.
 
Sambil terengah-engah kentus sampai di tepi kolam. melihat kentus yang kecapaian, teman-temannya heran. “Hai kentus, mengapa kamu terengah-engah dan mukamu pucat sekali?”, tanta temannya. “Tidak apa-apa, aku hanya cemas. Lihatlah padang rumput itu. aku tidak tau makhluk apaitu, tetapi makhluk itu sangat sombong. makhluk itu hendak menelan aku”, kata kentus.
 
Kakaknya yang baru tiba disitu menjelaskan. “Makhluk itu anak lembu. Sepengetahuan kakak anak lembu tidak jahat. mereka biasa dilepaskan di padang rumput ini setiap hari”, kata kakaknya. “Tidak jahat? kenapa kakak bisa bilang seperti itu? saya hampir ditelannya tadi”, kata kentus. “Ah tidah mungkin. Lembu tidak makan katak atau ikan tetapi hanya makan rumput”, jelas kakaknya.
 
“saya tidak percaya kak, tadi aku dikejarnya dan hampir ditendangnya”, kata kentus. “wahai teman-teman, aku sebenarnya bisa melawannya dengan menggembungkan diriku”, kata kentus sombong. “lawan saja kentus! kamu pasti menang”, teriak teman-temannya.
 
“sudahlah kentus, kamu tidak akan dapat menandingi lembu itu. Perbuatanmu itu berbahaya, hentikan!”, kata kakak kentus berualng kali. Tetapi kentus tidak perduli nasehat kakaknya. kentus terus menggembungkan diri karena dorongan teman-temannya. Padahal sebenarnya teman-temannya ingin memberi pelajaran pada kentus yang selalu sombong.
 
Setelah itu kenus tiba-tiba jatuh lemas. Perutnya sakit dan perlahan-lahan dikempiskan kembali. kakak dan teman-temannya menolong kentus yang lemas kesakitan. Akhirnya kentus malu dengan sikapnya yang sombong yang merugikan dirinya sendiri.
 
SEKIAN

Cara Jitu Menumbuhkan Semangat Belajar

1. Saat pulang sekolah tanyakan “hai sayang, apa yang menyenangkan hari ini disekolah?” Otomatis otak anak akan mencari hal-hal yang menyenangkan disekolah dan ini secara tidak langsung akan memberitahu sang anak bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.

2. Saat anak tidur (Hypnosleep), katakan “makin hari, belajar makin menyenangkan”, “sama halnya dengan bermain, belajar juga sangat menyenangkan”, “mudah sekali bagimu untuk belajar (berhitung, menghafal dll)”.

3. Jelaskan manfaat dari pelajaran yang sedang dipelajari (sesuai dengan minat anak tersebut) misal: dengan mempelajari perkalian, maka saat liburan naik kelas nanti nanti kamu bisa menghitung berapa harga barang yang akan kamu beli di Singapore dan kamu bisa membandingkannya dengan harga di Indonesia. Jika kamu menguasai conversation dalam bahasa inggris maka kamu akan sangat mudah berkomunikasi dengan pelatih sepak bolamu yang dari Thailand.

4. Mintalah guru les pelajarannya (jika ada), sering-sering mengatakan bahwa anak kita adalah anak yang hebat dan luar biasa. Pujian yang tulus dan memompa semangatnya jauh lebih penting dari pada mengajarkan tehnik-tehnik berhitung dan menghafal  yang cepat. Mintalah bantuan orang-orang sekitar termasuk guru untuk meningkatkan harga diri anak kita.

5. Jika anak kita masih kecil dan masih suka dibacakan dongeng, bacakan dongeng dengan posisi memangku dia (dengan posisi yang nyaman, serta memudahkan kita orangtua untuk memberikan ciuman kasih sayang atau pelukan sayang) tujuannya agar anak mengkaitkan membaca buku dengan rasa cinta dari orangtua dan buku adalah hal yang sangat menyenangkan.

6. Gunakan surat rahasia dari orangtua kepada anak, kita bisa berkata “nak, Ibu telah meletakan surat rahasia buat kamu. Cuma kamu dan ibu yang tahu isinya. Ibu letakan dibawah bantal tidurmu, bacalah setelah makan ya”. Isinya bisa berupa kata-kata yang menyemangati anak dalam kegiatan belajar dan sekolahnya.

Cara Mengajar Membaca yang Baik

Untuk mengajari anak membaca, cara yang efektif adalah Berdasarkan teori perkembangan, dalam teori perkembangan anak-anak sebelum belajar mengenal hal-hal yang abstrak didahului dengan mengenal hal-hal yang konkret terlebih dahulu, kemudian semi konkret dan baru kemudian hal-hal yang abstrak.

Mengajar anak  (terutama anak masih usia dini atau balita)  Belajar Membaca perlu kesungguhan dan kesabaran dari pihak guru maupun orangtua. Walau demikian kondisinya, masih banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya kepada guru. Padahal tugas guru adalah sebagai pemberi konsep awal untuk belajar membaca, cara mebaca, dan teknik mengucapkan bacaan. Selebihnya adalah tanggung jawab dan tugas orang tua dirumah, mengingat lebih banyaknya prosentasi waktu dirumah daripada disekolah maupun di tempat pendidikan yang lain semisal tempat les atau bimbel. Orangtua pun sebaiknya ikut berusaha membimbing bagaimana caranya agar anak cepat bisa membaca dengan baik. Harus disadari, pertama-tama yang bertanggung jawab soal pendidikan anak (apalagi balita) adalah orang tua atau keluarga. Pihak yang lain adalah Cuma sebagai motifator dan pembimbing aja.

Hasil temuan, teori-teori, atau teknik-teknik pembelajaran sepantasnyalah menjadi refrensi orang tua. Kalau tidak, sebagian anak yang kurang konsentrasi akan merasa kesulitan menangkap materi yang di sampaikan.

Membaca Bukan Mengeja
Membaca sudah dapat diajarkan pada balita, bahkan lebih efektif daripada sudah memasuki usia sekolah (6 tahun). Menurut pengalaman, bahwa anak umur 4 tahun lebih efektif daripada umur 5 tahun. Umur 3 tahun lebih mudah daripada 4 tahun. Jelasnya, makin kecil makin mudah untuk diajar — tentu dalam batas anak kalau sudah mulai bisa bicara, mengucapkan konsonan dengan benar.

Anak  balita bisa menyerap informasi secara luar biasa. Semakin muda umur anak, semakin besar daya serapnya terhadap informasi baru. Belajar bagi anak adalah sesuatu yang mengasyikkan. Karena belajar mengasyikkan, maka ia bisa menguasai lebih cepat.

Mengajar anak membaca bukan dengan mengeja seperti cara konvensional di sekolah yang dimulai pengenalan nama huruf, kemudian mengenal suku kata, barulah mengenal kata, akhirnya kalimat. Mengajar anak  membaca adalah dengan cara mengenalkan satu kata yang bermakna dan kata itu sudah akrab pada pikiran anak atau sudah sering di ucapkan sebelumnya. Seperti contoh :  Anak belajar membaca karena hafal konsonannya (suara) seperti:  “a – i – u – e – o “ ketika dibolak balik  menjadi “ i – o – u – e – a “ anak akan membaca  sama yaitu tetap  membaca “a – i – u – e – o “. Karena image anak akan menangkap secara konsonan, bukan secara konsep. Disini anak akan terlalu lama untuk memahami bentuk huruf, apalagi bagi anak yang kurang konsentrasi. Anak belajar membaca dengan konsep.  Dalam tahap awal anak diajarkan dulu bentuk bunyi. “a – i – u – e – o “ Setelah anak hafal bentuk bunyi, kemudian anak di ajarkan (dipahamkan) bentuk huruf seperti “a – i – u – e – o “ dengan cara dibolak balik menjadi “ i – o – u – e – a “. . “o – u – e  – i – a “ dan lain sebagainya sampai anak benar  paham bentuk huruf, dan hal ini tidak membutuhkan waktu yang lama.

Selanjutnya setelah anak paham bentuk konsonan dan bentuk huruf diatas maka anak akan mulai memasuki tahap belajar membaca dengan tidak mengeja, dengan metode penggabungan antara bentuk konsonan dan bentuk huruf. Yang di terapkan secara bertahap dan tersusun (konstruktif) dari awal sampai akhir.

Metode ini tidak mengharuskan anak harus menghafal dulu huruf abjad (a – z). tetapi anak diajarkan dengan sistem silang, dan sistim gabung, anak diajarkan memahami huruf yang terletak dibelakang huruf mati.

Contoh :

“a = ba, “o = bo, “i = bi, “e = be ….dst

Disini anak akan cepat menangkap dan membedakan bentuk dan bunyi huruf.

 
  Tingkat-tingkat Pencapaian Konsep

Dengan metode ini diharapkan Anak dapat mencapai Empat tingkat konsep belajar membaca yaitu :

1). Tingkat konkret

Pencapaian tingkat ini ditandai dengan adanya pengenalan anak terhadap suatu bunyi huruf dan bentuk huruf. Anak akan bisa mengidentifikasi bahwa itu adalah bunyi dan bentuk huruf. Anak  mampu membedakan huruf dengan bunyi dan bentuk. Disini anak sudah mampu menyimpan gambaran bentuk dan bunyi huruf dalam struktur kognitifnya secara mudah.

2). Tingkat identitas

Anak dapat mencapai tingkat konsep identitas apabila ia mengenal suatu huruf setelah selang waktu tertentu. Misalnya mengenal dan dengan spontan menyebut huruf “ C “ ketika ia melihat majalah atau papan nama di pinggir jalan.

3). Tingkat klasifikatori

Pada tingkat ini anak sudah mampu mengenal persamaan dari contoh yang berbeda. Misalnya anak mampu membedakan antara huruf (a) dibelakang huruf (b) maka dengan reflek anak akan menyebutnya (ba), bukan menyebut per huruf yaitu (b – a = ba) …..dst

4). Tingkat formal

Pada tingkat ini anak sudah mampu membatasi suatu kalimat dengan kalimat lain, membedakannya, menentukan ciri-ciri, bahkan sampai mengevaluasi atau memberikan contoh secara verbal. Seperti: ini gajah, maka anak akan menggambarkan bahwa bentuk gajah itu besar, kupingnya lebar, belalainya panjang…dst

 

Cara Mendidik Anak TK

Pendidikan Islam Anak Usia 4 Tahun

2014-03-14 08.01.37

Umumnya, pada usia 4 tahun ini si kecil baru mulai masuk TK (Taman Kanak-kanak). Baik TK yang biasa atau TK Al Quran yang dikenal dengan TKA (Taman Kanak-kanak Al Quran) atau TPQ (Taman Pendidikan Al Quran). Itu artinya, sebagian tanggung jawab pendidikan anak terlimpahkan pada para guru TK tersebut. Namun demikian, adalah salah besar apabila orang tua menyerahkan pendidikan anak 100% pada lembaga pendidikan. Kegagalan pendidikan kepribadian anak kebanyakan karena kegagalan pendidikan dalam rumah; yakni pendidikan orang tua.

Dalam konteks pendidikan orang tua, ibulah yang paling memegang peranan penting. Oleh karena itu, sukses tidaknya masa depan anak dan baik buruknya kepribadiannya, akan sangat tergantung seberapa peran ibu dalam proses pendidikannya. Terutama dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) yakni usia 0 – 6 tahun dan 6 – 16 (usia SD SMP). Tentu saja peran ayah tak kalah pentingnya, terutama dalam proses pembangunan kepribadian (character building).

Berikut beberapa tips untuk menstimulasi kemampuan intelektual dan sosial anak usia 4 tahun.

Pertama, bacakan buku, khususnya buku Islam untuk anak-anak, setiap hari dan dorong mereka untuk melihat bukunya sendiri. Beri bahan bacaan alternatif dari iklan koran, kotak susu, dan lain-lain. Dorong mereka bercerita pada yang lebih muda.

Kedua, ajarkan akhlak atau etika bersosial yang baik menurut Islam. Saat dia merebut mainan temannya, ingatkan untuk meminjam secara baik-baik. Saat temannya berbagi mainan, ajarkan untuk berterima kasih. Saat dia melakukan kesalahan, ajarkan untuk meminta maaf. Ketiga konsep ini tidak saja harus diajarkan, tapi juga mesti dicontohkan oleh kedua orang tua. Bagaimanapun, keteladanan orang tua adalah guru terbaik bagi si kecil. Al Quran berulang kali menekankan betapa pentingnya keteladanan dalam menuju suksesnya pendidikan akhlak (QS 33:21; Al Mumtahanah 60:4, 6). Apa yang ingin dilakukan oleh anak, hendaknya dilakukan juga oleh orang tua. Apa yang tidak ingin dilakukan anak, hendaknya orang tua tidak melakukannya juga.

Sebagai contoh, apabila sang ayah ingin anaknya tidak merokok, maka ia hendaknya juga tidak merokok; berhenti merokok apabila asalnya seorang perokok; atau setidak-tidaknya tidak merokok di depan anak-anaknya.

Ketiga, ajarkan kesadaran multikultural dan toleransi terhadap keragaman dan perbedaan. Baik keragaman adanya berbagai golongan dalam Islam maupun di luar Islam. Hal ini dapat dilakukan melalui representasi boneka, gambar dan buku. Seperti boneka orang-orang dari berbagai suku, bangsa dan agama. Gambar masjid, gereja, pagoda, dan buku-buku tentang perayaan masing-masing. Bagi seoang muslim, agama terbaik adalah Islam (QS Ali Imron 3:19). Pada waktu yang sama seorang muslim dituntut untuk mengakui dan mengapresiasi perbedaan pilihan (QS Al Hujurat 49:13). Toleransi dan menghormati perbedaan, dengan demikian, menjadi salah satu nilai pokok (core value) Islam.

Keempat, anak usia 4 tahun memiliki kebutuhan kuat untuk dianggap penting dan berharga. Pujilah pencapaian yang diraihnya, dan berikan hadiah berupa kesempatan untuk merasakan kebebasan dan kemandirian.

Yang tak kalah pentingnya, orang tua, terutama ibu, harus rajin mengasah kemampuan. Dengan cara banyak membaca bacaan seputar pendidikan anak dan berkonsultasi dengan ahlinya.

 

 

Rapat di Tk Islam Darunnajah 10

Pesanggrahan-20140405-00989 Pesanggrahan-20140405-00986 Pesanggrahan-20140405-00987 Pesanggrahan-20140405-00988

 

 

 

Jakarta, (5/4) Wali murid sedang mengadakan rapat di serambi depan Tk Islam Darunnajah 10. dalam rangka membicarakan perpisahan yang Insya Allah akan diadakan di Kampung Main Cipulir (KMC) 18 januari.

Setelah rapat selesai, orang tua murid mendengarkan penyuluhan tentang Fingerprint yaitu mengenali bakat dan potensi, tujuannya : 1. Memahami bahwa semua manusia dilahirkan dalam keadaan cerdas. 2. Memberikan pemahaman bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. 3. Menentukan pola bimbingan yang sesuai pada kelebihannya. 4. Menghindari “pembunuhan karakter”. 4. Menghindari investasi kebodohan. 5. Menemukan jati diri dan karpet kesuksesan sedini mungkin.

Dengan adanya seminar ini di harapkan orang tua dapat mengerti tentang anak nya dan bagaimana cara untuk menghadapi dalam kehidupannya. (wa)